Entri Populer

Rabu, 25 Januari 2017

“ PERJALANAN MENEMBUS BEASISWA LPDP, MELEWATI KETERBATASAN DINDING DIRI “



EMPAT KALI KEGAGALAN
Perkenalkan nama saya Ahmad Yusuf atau sering dipanggil Yusuf atau Ahmad. Saya alumni Sosiologi Fisip UBB angkatan 2011. Pada tulisan ini, saya akan berbagi cerita terkait pengalaman saya menembus beasiswa LPDP RI. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari cerita ini, tapi barangkali saya bisa berbagi pengalaman kepada teman-teman semua bagaimana dan tips apa saja yang bisa ditempuh untuk menembus Beasiswa LPDP RI. Let’s commence to the story.
Tanggal 09 September 2016, tepatnya hari Jumat pukul 15.00 adalah hari bersejarah bagi saya. Sujud syukur tak terhingga saya lantunkan ke hadirat Allah SWT. Hari itu saya dinyatakan “ LULUS SUBSTANSI” Beasiswa LPDP RI. Rasanya semuanya seperti mimpi saja, karena dulu saya hanya memimpikannya, dan sekarang saya benar-benar sudah menjadi Awardee LPDP. Alhamdulillah, perjalanan panjang siap mengawali cerita ini. Setelah dinyatakan lulus dari UBB, pada tanggal 10 November 2015 saya melepaskan status mahasiswa saya. Iya, hari itu saya wisuda bersama teman-teman seperjuangan dan orang-orang yang sangat saya banggakan, keluarga khususnya kedua orang tua saya. Raut kebahagiaan penuh haru terpancar jelas di wajah tua kedua orang tua saya. Hari itu, saya berhasil menjadi “ LULUSAN TERBAIK” di Fisip dan berdiri di garda terdepan bersama rekan-rekan lainnya. Sebuah mimpi yang sudah saya impikan sejak lama saat awal masuk perkuliahan.  Menjadi Lulusan Terbaik, itulah janji saya dulu kepada diri sendiri dan orang tua saya. Alhamdulillah, Allah mengijabah doa dan harapan saya.
Pasca lulus dari UBB, saya mulai “ ANDILAU “, Antara Dilema dan Galau. Saya bingung antara dua pilihan, bekerja atau kuliah lagi. Ingin kuliah, tapi terkendala biaya. Jujur, saat itu alhamdulillah saya banyak mendapatkan tawaran pekerjaan, hanya saja saya belum siap untuk berkerja. Saya masih ingin melanjutkan cita-cita saya untuk S2. Selama satu tahun saya mencari beasiswa kemana-mana, membuka google hampir tiap hari bahkan bertanya kepada dosen saya. Selama itu pula, saya menganggur hehe, banyak omongan negatif menerpa saya. Awalnya agak risih juga dengan omongan masyarakat, tapi lama-kelamaan menjadi terbiasa. Saya anggap perkataan mereka motivasi untuk memacu semangat meraih mimpi. Saat itu saya hanya mengajar TPA dan berbagi pengetahuan Bahasa Inggris kepada anak-anak di daerah saya, namun saya selalu berharap jika apa yang saya lakukan ini tidak sia-sia.
Awal perjalanan mimpi saya bermula di sini. 10 januari 2016, saya mencoba mencari peruntungan ke Yogyakarta untuk test IELTS, sejenis TOEFL tapi berbeda salah satu syarat untuk menempuh studi lanjut di benua Eropa dan Australia. Saat itu, saya benar-benar belum paham seperti apa tes IELTS tersebut. Belum lagi biaya tes IELTS sangat mahal, sekali tes menelan biaya 2,85 juta. Bisa dibayangkan kalau sampai gagal tes nya. Sebenarnya sebelum tes, saya mau ambil kelas persiapan IELTS untuk memudahkan saya memahami soal-soal tes IELTS, berhubung biayanya mahal, gak jadi deh. Akhirnya saya belajar mandiri selama dua minggu. Pada tanggal 14 Febuari dengan bekal yang begitu singkat, akhirnya saya tes. Ada 4 sesi dalam tes ini, yaitu Listening, Reading, Writing dan Speaking. Untuk writing, kita diberikan dua buah topik, kemudian tugas kita menganalisis topik tersebut dengan data dan tata bahasa inggris yang baik dan benar. Sementara Speaking, kita akan ditanya seperti wawancara dari Native Speaker atau Penutur Asli dari Inggris atau Australia. Saat tes, saya dalam kondisi kurang sehat, demam dan flu. Alhasil ketika tes saya tidak maksimal, dan saat pengumuman ternyata nilai IELTS saya hanya “ 5.0 “, sementara syarat untuk kuliah ke Eropa dan Australia dibutuhkan minimal “6,5”. Hari itu, saya benar-benar terpuruk, sedih dan pikiranpun tak menentu. Belum lagi saya membayangkan wajah orang tua saya yang menaruh harapan besar kepada saya. Namun kesedihan itu tidak berlangsung lama, setelah pengumuman itu saya memutuskan untuk pulang ke Bangka sembari menyembuhkan semangat yang luka.
Sesampainya di rumah, saya mulai mengajar bahasa inggris dan TPA lagi sambil mencari beasiswa. Pada bulan April, saya mendapatkan informasi tentang beasiswa “ TURKIYE BURSLARI “, yaitu beasiswa dari Pemerintah Turki dari dosen saya. Waktu itu saya hanya punya waktu tiga hari melengkapi berkasnya, mulai menulis essay, motivation letter sampai dengan pengalaman selama kuliah. Namun saya terkendala dengan Ijazah yang belum diterjemahkan ke versi Inggris. Saat itu saya menanyakan ke UPT Bahasa untuk menterjemahkan Ijazah saya, sayangnya waktu itu kampus tidak menerima jasa penerjemah. Akhirnya saya mendaftar dengan berkas apa adanya dan kondisi Ijazah yang belum diterjemahkan ke versi Inggris. Pengumuman tiba, untuk kedua kalinya saya “GAGAL”. Semangat saya mulai mengendor dan sempat jatuh di titik terendah. Setelah beberapa hari melalui perenungan, saya mendapat kabar tentang beasiswa “AAS” yaitu, beasiswa pemerintah Australia, akan tetapi lagi-lagi terkendala dengan Ijajah. Padahal saat itu, beasiswa ini hanya membutuhkan nilai IELTS minimal “ 5.0”,  itu artinya syaratnya bisa saya penuhi.
Namun saya harus mengurungkan niat saya, sempat sedih untuk ketiga kalinya. Tahun 2016, memang penuh ujian pikirku saat itu. Beberapa minggu kemudian, saya membaca informasi tentang program Pertukaran Pemuda Indonesia-China. Saat itu, saya mendaftar dengan penuh semangat hanya saja memang persiapan saya kurang matang saat itu, saat pengumuman saya hanya menjadi “CADANGAN”, saja. Hemm,,, lagi-lagi saya harus menelan pil pahit. Rasanya seperti tidak punya muka lagi, saking malunya saya pada diri sendiri, belum lagi saat itu banyak teman-teman saya yang sudah bekerja sementara saya masih menganggur. Tentu, tak bisa saya jelaskan perasaan saya saat itu, sangat hancur mengingat apa yang dinginkan tidak sesuai rencana.
DI BALIK KESULITAN ADA KEMUDAHAN
Meskipun begitu, saya selalu menyemangati diri saya, bahwa semua ini nantinya akan terbayarkan bila Allah telah mengizinkannya untuk kita. Sekitar bulan Mei-Juli pendaftaran batch III Beasiswa LPDP dibuka, waktu itu saya masih ingin menenangkan diri, menyembuhkan hati dan semangat yang hilang. Waktu berlalu begitu cepat, tanpa terasa memasuki bulan Juli, pendaftaran LPDP hampir ditutup. Saat itu saya iseng-iseng buka internet membaca pengalaman orang yang lulus beasiswa LPDP. Setelah membaca blog mereka, saya mencoba mendaftar beasiswa LPDP yang hampir deadline. Waktu itu saya mengurus berkas persyaratan tiga hari sebelum pendaftaran ditutup. Saya berpacu dengan waktu kala itu, bolak-balik Muntok-Pangkal pinang untuk mengurus berkas persyaratan seperti :
1.      SKCK
2.      Surat Keterangan Sehat
3.      Surat Bebas Narkoba
4.      Surat Rekomendasi (Dosen atau Tokoh Masyarakat)
5.      Surat Keterangan Tidak Mampu (bagi alumni bidik misi dan jalur afirmasi)
6.      Surat Keterangan Penghasilan Orang Tua
7.      Surat Izin (bagi yang sudah bekerja)
8.      Slip Listrik 3 bulan terakhir (bagi pendaftar jalur afirmasi)
9.      Kartu Keluarga
10.   Surat Pernyataan
Selain berkas di atas, berkas yang sangat penting untuk menentukan kita layak atau tidak lulus administrasi yaitu :
1.      Menulis dua essay dengan tema :
a.       Kontribusiku untuk Indonesia
b.      Sukses Terbesar dalam Hidupku
2.      Menulis Rencana Studi.
3.      TOEFL/IELTS :
a.       Untuk Jalur Afirmasi : TOEFL minimal 400 baik tujuan Dalam/Luar Negeri
b.      Untuk Jalur Reguler : TOEFL minimal 500 tujuan Dalam Negeri dan 550 tujuan Luar Negeri
4.      IPK :
a.       Untuk Jalur Afirmasi, IPK minimal 3,50
b.      Untuk Jalur Reguler, IPK minimal 3,00
Untuk essay dan rencana studi, karena waktunya mepet, saya mengerjakannya sehari sebelum  deadline pendaftaran. Jadi sebaiknya bagi-bagi teman-teman yang ingin mendaftar beasiswa LPDP, ada baiknya mempersiapkan essay dan rencana studi jauhari agar mudah kita mengoreksi kekurangannya di mana. Jangan lupa juga untuk meminta review atau pendapat dari orang-orang yang ahli di bidangnya misalnya dosen atau teman-teman yang memang pakar di bidang penulisan.
Sebelum saya mendaftar beasiswa LPDP, waktu itu saya sempat berkonsultasi dengan dosen-dosen saya di kampus. Awalnya saya sempat pesimis, saat mereka mengatakan bahwa beasiswa LPDP itu sangat kompetitif dan prestisius serta banyak peminatnya. Terlebih lagi kampus kita UBB dan Jurusan Sosiologi juga masih tergolong masih muda, maka akan sulit rasanya untuk menembus beasiswa LPDP. Saya mencoba untuk meyakinkan dosen saya, bahwa saya ingin mencobanya, barangkali ini bisa menjadi pengalaman bagi saya jika saya berhasil ataupun gagal. Setelah mendapat wejangan dan restu dari dosen, akhirnya saya mencoba untuk mendaftar.
Tepat tanggal 14 Juli 2017, hari terakhir pendaftaran di buka sekitar jam 16.30, saya mendaftar dengan mengisi data secara seksama. Alhamdulillah meskipun deadline, akan tetapi hari itu tidak mengalami kendala apapun, padahal saat itu banyak yang sedang mengakses situs LPDP dan mengatakan bahwa situsnya overload karena terlalu banyak yang mengakses. Saat itu sejujurnya saya ingin mengambil kampus tujuan Luar Negeri, yaitu University of Birmingham, akan tetapi karena pada saat itu saya masih bingung dengan proses pendaftaran ke kampus tujuan Luar Negeri, setelah melalui pertimbangan matang, saya memutuskan untuk memilih kampus UGM. Untuk alumni bidik misi atau jalur afirmasi dengan nilai IELTS ‘ 5.0 “, sebenarnya sudah cukup untuk mendaftar beasiswa LPDP tujuan kampus Luar Negeri. Saat kita lulus beasiswa LPDP, akan ada program pengayaan Bahasa untuk meningkatkan nilai IETLS kita sampai mencapai target minimal 6.5. Meskipun begitu, UGM memang kampus impian saya sejak SMA. Jadi saya sangat berharap bisa diterima di kampus UGM.
13 hari berlalu, tepat tanggal 27 Juli 2017, waktu pengumuman seleksi administrasipun tiba. Hari itu, setelah sholat shubuh saya selalu memantau email saya dengan penuh harap dan berdebar-debar. Beberapa kali saya mengecek dan merefresh email, belum juga ada kabar meski sudah sore hari. Mungkin saya belum beruntung, pikirku saat itu. Sampai setelah maghrib, isya berlalu pengumuman tak kunjung tiba. Saya mulai merasakan degup jantung saya semakin berdebar kencang. Saya lihat di grup fb LPDP, ternyata pengumuman memang belum dirilis. Sambil menunggu, kami sesama pendaftar LPDP chat di grup FB sambil menunggu dengan harap cemas. jam 22.00, jam 23.00 pengumuman belum keluar juga. Sekitar jam 23.55 teman-teman mengatakan bahwa pengumuman telah dirilis, ada yang lulus dan ada juga yang tidak. Saya mengecek email saya, ternyata belum ada kabar apapun. Jam 00.00 saya cek kembali, saya lihat ada sebuah pesan baru di email dengan subjek pengirim LPDP. Saya membuka pesan email dengan basmalah sembari menutup mata kiri saya. Dan ternyata hasilnya, selamat anda “ LULUS SELEKSI ADMINISTRASI “. Alhamdulillah, sujud syukur tiada terkira terucap dari lisanku. Malam itu saya benar-benar tidak bisa tidur karena bahagianya, sampai akhirnya mata saya bengkak karena tidak bisa tidur hehe.
Setelah pengumuman kelulusan administrasi, saya menunggu jadwal tes seleksi substansi. Awal Agustus jadwal pun dikirim ke email saya. Waktu jadwal seleksi di Yogyakarta dari 10-12 Agustus 2016. Tanggal 08 Agustus sayapun berangkat dengan menggenggam sebuah asa bersama restu dan ridho orang tua yang melepaskan keberangkatan saya.
Tanggal yang dinantikan pun tiba, tanggal 10 Agustus 2016, jam 06.00 pagi saya berangkat ke lokasi tes di Gedung Keuangan Negara Yogyakarta. Hari itu saya dapat jadwal tes Essay on The Spot dan LGD (Leaderless Group Discussion). Untuk tes Essay on The Spot, kita akan diberikan dua buah topik terhangat. Waktu itu topiknya tentang pertanian dan pariwisata. karena saya lebih suka dengan topik pariwisata, akhirnya saya memilih topik pariwisata. pada sesi ini, kita akan diberikan waktu 30 menit untuk menyelesaikan topik ini, jadi kita harus memanfaatkan waktunya dengan maksimal karena ada beberapa teman-teman saya lihat wajahnya tampak kebingungan karena essaynya belum kelar. Alhamdulillah saya bisa melewatinya dengan baik. Saran saya waktu sesi essay, kalian harus menentukan alur essaynya mau di arahkan kemana, tentukan garis besarnya untuk memudahkan kita beripikir secara sistematis. Dalam essay ini harus memuat, pendahuluan atau latar belakang masalah, pembahasan dan kesimpulan. Inilah kunci untuk mendapatkan poin dari sesi essay.
Setelah Essay on The Spot, saya masuk ke ruangan berikutnya untuk ikut tes LGD bersama kelompok yang telah dibagi. Jumlah anggota dalam satu kelompok bisa bervariasi, saat itu jumlah anggota di kelompok saya ada 11 orang. Dalam LGD ini, akan ada dua orang yang akan mengawasi perilaku kita sekaligus yang memberikan nilai untuk sesi LGD. Dari gerak-geriknya sepertinya, dua orang tersebut sepertinya dosen dan psikolog. Jadi saat sesi ini, usahakan untuk berperilaku dengan baik, sopan dan selalu tersenyum. Tema LGD kelompok saya saat itu adalah seputar “ Tax Amnesty “. Dalam LGD ini, kita diberikan kesempatan untuk mempersiapkan sekitar 5 menit sebelum diskusi dimulai. Sayangnya saat itu, moderator dari kelompok saya tidak membaca petunjuknya dengan baik, sehingga LGD langsung dimulai dan kami belum sempat membaca artikel yang dijadikan bahan untuk LGD. Wajah kami mendadak tegang, moderator langsung menyuruh teman di sebelah saya untuk memulai, untungnya dia bisa memulai dengan tenang. Saat sesi ini, yang perlu diperhatikan adalah bahwa kita tidak boleh terlalu menonjol atau mendominasi dari yang lainnya, karena yang namanya LGD diharuskan semua peserta dapat menyampaikan argumennya. Dalam LGD juga tidak ada yang benar dan salah, semuanya tergantung dari pengetahuan dan penyampaian saat kita sedang LGD. Kebetulan saat itu saya hanya memiliki satu kesempatan berbicara. Saya hanya menyampaikan apa yang saya bisa karena jujur saat itu saya belum terlalu paham dengan topik Tax Amnesty. Parahnya saat itu, moderator kami berdiri dari awal sampai akhir dan ini tentu bukanlah kondisi LGD yang baik. Karena seharusnya LGD itu diskusi, bukan mencari siapa yang paling hebat dan jago berargumen. Jadi bersikaplah senatural mungkin, sampaikanlah apa yang kamu bisa dengan pembawaan yang elegan dan jangan tegang. Pada sesi ini, sebenarnya saya sangat gugup dan agak takut gitu, karena saya satu kelompok dengan teman-teman yang kampusnya sudah punya nama besar, mulai dari UGM, UNY, UNS dll. Jujur saya sangat minder saat itu ketika berhadapan dengan mereka, saya merasa bukan apa-apa dibandingkan mereka. Hanya saja saat itu, saya hanya berfikir bukan untuk menjadi yang terbaik saat diskusi, tetapi bagaimana caranya saya menyampaikan argumen saya dengan elegan dan bisa diterima.
Setelah LGD kelar, kami semua tampak kurang senang dengan hasil LGD yang berjalan kurang baik dan merasa pesimis. Salah satu teman kami mengatakan, jangan fikirkan LGD, selalu ada harapan. Lebih baik kita fokus ke persiapan wawancara. Hari itu, saya berharap agar tidak dapat jadwal wawancara saat itu juga, karena saya masih tegang dan gugup setelah LGD. Alhamdulillah, Allah menjawab harapan saya, saya mendapatkan jadwal interview esok harinya.
Malam harinya sebelum wawancara, saya mulai mempelajari daftar pertanyaan wawancara yang telah saya siapkan. Saya sengaja mempersiapkan daftar pertanyaan wawancara untuk memudahkan saya saat wawancara besok. Saya berlatih wawancara di depan cermin, melihat gestur, penyampaian kalimat dan ekspresi saya apakah sudah tepat atau belum untuk menghadapi wawancara. Saya berlatih dengan diri saya sendiri, saya yang menanyakan dan saya pula menjawab, agak merasa aneh sih sebenarnya hehe. Setelah latihan wawancara, saya sholat isya’ dan makan malam. Setelah makan malam, saya langsung tidur lebih awal agar esok harinya bisa menghadapi wawancara dengan baik dan kondisi fit.
Keesokan paginya, tepat tanggal 11 Agustus jam 06.30 saya tiba di Gedung Keuangan Negara. Saya adalah peserta pertama yang datang di Gedung tersebut. Ini saya lakukan agar saya bisa lebih siap dan tidak terburu-buru saat wawancara dimulai. Sebelum wawancara dimulai, berkas-berkas yang dibawakan diverifikasi untuk menentukan apakah kita layak wawancara atau tidak. Sekitar jam 08.00 kami masuk ke ruang verifikasi, satu persatu nama-nama dipanggil untuk diverifikasi. Saat itu, entah mengapa saya merasa semakin tidak percaya diri saat melihat para kandidat dengan tampilannya terlihat meyakinkan dan cerdas. Saya merasa aura saya tertutup. Saya berbincang-bincang dengan kandidat lainnya di ruang tunggu, saya menceritakan apa yang saya rasakan saat itu. Dia mengatakan bahwa semua orang di sini juga sebenarnya tegang, jadi bukan kita saja yang tegang. Harus yakin, insya Allah semuanya akan berjalan lancar, tutur kandidat yang mendaftar di National University of Singapore ini.
Sebelum verfikasi dimulai, saya ke toilet terlebih dahulu, entah apa yang terjadi tiba-tiba saat saya menutup toiletnya, toiletnya terkunci dan tidak bisa dibuka. Terang saja saya kaget dan panik, saya berusaha membukanya dengan segala upaya namun hasilnya nihil. Akhirnya saya berteriak minta tolong sekencang-kencangnya sambil menggedor-gedor pintu. Sekitar 15 menit saya terkurung di toilet dengan kondisi yang pengap, saya nyaris pingsan karena pengap. Alhamdulillah akhirnya ada kandidat lain yang kebetulan mau ke toilet dan berhasil membukanya. Saya pun keluar dengan wajah yang pucat pasi dan berterima kasih kepada mas tersebut, calon kandidat doktor di University of College London. Setelah kejadian itu, saya mulai berfikir yang aneh-aneh. Saya merasa jangan-jangan ini tanda yang kurang baik. Teman-teman di ruang verifikasi memberikan saya semangat dan berusaha untuk memotivasi saya agar tetap berfirkir positif. Sekitar jam 10.00 nama saya dipanggil untuk proses verifikasi.
Pada proses verfifikasi ini, saya nyaris di black list dan tidak bisa diikut sertakan dalam sesi wawancara, gara-gara surat rekomendasi dari dosennya saya ketik ulang. Awalnya surat rekomendasi tersebut ditulis tangan oleh dosen, akan tetapi karena saya ingin surat rekomendasinya terlihat lebih rapi, sayapun mengetik ulang surat rekomendasi dosen tersebut dan menscan tanda tangan mereka. Saat itu, saya tidak sempat lagi meminta tanda tangan lagi, karena saya sudah di Yogyakarta. Panitia minta penjelasan saya, saya menjelaskan akan tetapi mereka meragukan keaslian surat rekomendasi itu apakah murni direkomendasikan dosen. Mereka tidak percaya, mereka meminta saya menghubungi salah satu dosen pemberi rekomendasi, akan tetapi tidak ada jawaban dari dosen karena ia sedang mengajar. Saya mulai panik dan cemas. saya mencoba menghubungi dosen lainnya, alhamdulillah diangkat dan dia menjelaskannya dengan sangat baik dan jelas. Akhirnya sayapun diizinkan untuk mengikuti proses wawancara. Dengan beberapa kejadian itu, saya semakin yakin bahwa ini adalah pertanda tidak baik saat itu, lagi-lagi teman-teman saya selalu menyemangati saya, hingga akhirnya saya bisa tenang kembali.
Satelah verifikasi, saya langsung menuju ruangan wawancara, saya mendapat jadwal jam 14.30 WIB. Hari itu saya hanya minum dan makan kue saja karena di lokasi tidak disediakan nasi. Jadi saat wawancara ini, usahakan teman-teman makan terlebih dahulu agar tubuhnya tidak loyo dan memberikan performa positif saat wawancara. Dari jam 11.00 saya menunggu jadwal wawancara sambil berbincang dengan kandidat lainnya. Saya melihat ada kandidat yang murung mukanya saat keluar wawancara, ada yang biasa saja, ada yang girang dan ada juga yang bahagia. Sepertinya wawancara ini memang berkesan. Jadi usahakanlah untuk memaksimalkan wawancara dengan baik.
Untuk penilaiannya, Essay on The Spot 15%, LGD 15% dan Wawancara 70% dengan total 100%. Jadi bisa dikatakan bahwa wawancara ini sangat menentukan apakah kita layak atau tidak menjadi awardee atau penerima beasiswa LPDP. Pada saat wawancara ini, saran saya pakailah baju senyaman mungkin dan yang bisa memberikan aura positif saat kamu memakainya. Saat masuk, jangan lupa ucapkan salam kepada para pewawancara atau interviewer. Jangan duduk dulu sebelum dipersilahkan, karena ini termasuk penilaian sikap dan perilaku kita. Perlu diketahui juga, bahwa dalam wawancara ini ada 3 orang interviewer, 2 orang dosen ahli dan 1 orang psikolog. Tips berikutnya pada saat wawancara jangan tegang dan tetap senyum meskipun kita tidak mengerti dengan pertanyaan yang diberikan kepada kita. Berilah kesan yang baik saat wawancara dengan menatap mata mereka dan sopan serta selalu menebarkan senyum.
Hal yang paling penting dilakukan sebelum wawancara adalah berdoa, jangan lupa baca basmalah, baca doa Nabi Musa dan doa rabithah untuk melembutkan hati pewawancara saat melihat wajah kita, setelah membaca doa, insya Allah hati kita akan lebih tenang.
Sekitar jam 14.30 saya dipanggil ke ruangan wawancara, saat masuk ke ruangan degup jantung semakin kencang seperti melihat seseorang yang spesial tapi bedanya di sini lebih menegangkan. Waktu itu, ada 3 orang pewawancara saya lihat sedang sibuk berbincang dan seperti mengisi data di laptop mereka. Saya mengucapkan salam namun tidak langsung duduk. Saya menanyakan apakah saya boleh duduk, mereka tersenyum sembari mengangguk. Wawancara pun dimulai. Dimulai dengan memperkenalkan diri. Saat memperkenalkan diri, saran saya kita harus memperkenalkan siapa diri dengan baik beserta apa passion kita, misalnya saya adalah Ahmad Yusuf, saya adalah lulusan Sosiologi UBB. Saya adalah pribadi pembelajar, tidak mudah menyerah dan suka dengan kegiatan sosial. Saya juga suka terlibat dalam aksi kemanusiaan dan kegiatan yang berhubungan dengan pendidikan misalnya mengajar. Selain itu juga saya adalah sosok yang mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Pada poin ini, kita akan memberikan sinyal positif pada pewawancara, karena mereka akan tertarik dengan pernyataan kita. Untuk itu buatlah perkenalan sebaik mungkin.
Setelah itu saya, mulai ditanya dengan pertanyaan rencana studi, mengapa memilih kampus UGM bukan UI ? mengapa memilih jurusan HI padahal kamu alumni sosiologi ? bagaimana cara kamu survive di UGM ? apa yang membuat kamu bisa bertahan dan lulus dengan baik di UGM ? mengapa kamu tertarik mengambil penelitian tesis tentang ini ? dan lain-lain. Alhamdulillah, karena saya sudah menyiapkan daftar pertanyaannya, jadi ini sangat membantu saya dan alhamdulillah saya bisa menjawabnya dengan lancar dan tenang. Intinya saat kita ditanya, lalu bingung menjawabnya jangan lupa senyum dan jangan tegang, jawablah senatural dan sejujur mungkin. Karena LPDP bukan hanya mencari sosok yang prestasi akademiknya bagus, akan tetapi orang-orang yang jujur dan mau mengabdi kepada bangsa.
Saya juga ditanya terkait apa aktivitas saya setelah lulus. Saya menjawab bahwa saya hanya mengajar TPA dan Bahasa Inggris di kampung saya secara suka rela. Saya juga menjadi salah satu mentor rohis di salah satu SMK di daerah saya. Saya fikir di poin inilah mereka menjadi tertarik dengan saya. Kemudian mereka bertanya, apakah kamu siap jika kamu ditempatkan di Indonesia di bagian Timur. Alhamdulillah, saya juga bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Selain itu saya ditanya tentang keluarga dengan bahasa Inggris.
Banyak sekali yang ditanya saat itu, hingga wawancara saya berlangsung satu jam, saya juga agak lupa entah apa jawaban saya. Kadang saat saya tidak mengerti dengan pertanyaannya dan kesulitan menjawab, saya hanya tersenyum dan menarik nafas beberapa saat, lalu menjawabnya kembali, terakhir saya ditanya dengan bagaimana pendapat kamu tentang generasi muda saat ini, bagaimana tanggapan kamu dengan generasi muda yang tidak hafal lagu nasional kita dan bagaimana solusi kamu ? dan pertanyaan terakhir saya ditanya apakah kamu hafal lagu Indonesia Raya ? saya fikir mereka hanya bercanda, saya hanya tersenyum kecil. Ternyata mereka meminta saya untuk menyanyikan Indonesia Raya ? saya kaget waktu itu, karena di dalam ruangan ada beberapa kandidat juga yang sedang wawancara. Akhirnya saya menyanyikan Indonesia Raya, sembari meneteskan air mata secara tiba-tiba. Saat itu saya membayangkan para pahlawan kita memegang bambu runcing melawan penjajah bersenjata api. Saat menyanyi saya menangis, dan tiba-tiba muncul kalimat dari interviewernya, kamu menangis jangan-jangan gak hafal lagunya ya hehe... saya jelaskan bahwa saya menangis karena mengingat jasa para pahlawan kita yang telah mengorbankan tetesan keringat darahnya untuk NKRI ini. setelah mendengar jawaban saya, ketiga interviewer tampak tersenyum lebar dan salah satunya mengatakan  “ KAMU BAGUS BANGET “, jarang sekali kami menemukan anak muda yang punya semangat dan motivasi yang bagus seperti kamu. Semoga kamu bisa lolos seleksi ini. Mendengar pernyataan itu, saya hanya tersenyum seraya mengamininya.
Setelah itu, saya keluar dengan rasa lega dan penuh keceriaan. Teman-teman di luar yang sedang menunggu jadwal wawancara tampak heran melihat saya sembari bertanya apa yang terjadi saat wawancara. Saya menceritakan semuanya serta berbagi tips juga saat wawancara. Setelah itu, saya menunggu pengumuman kelulusan wawancara.

Tanggal 09.00 September hari Jumat pengumuman segera diumumkan, diringi hujan saat sholat Jumat saya berdoa kepada Allah untuk diberikan karunia terbaik di hari itu. Sekitar jam 15.00 WIB, pengumuman diumumkan, kali ini saya benar-benar gugup dan tangan saya gemetar saat melihat pesanmasuk pada email saya, terlebih lagi 3 dari teman-teman akrab saya saat wawancara tidak lulus seleksi substansi semakin membuat saya merasa berfikir macam-macam. Dengan membaca bismillah ditemani emak dan pak saya membuka pesan email tersebut secara perlahan dengan harap-harap cemas. Kata demi kata saya baca dengan hati-hati. Setiap membaca kata ujung kalimat semakin saya merasa tidak menentu dan ternyata hasilnya. Jreng jreng jreng jreng jreng jreng jreng jreng jreng jreng jreng jreng jreng  jreng